Memanusiakan Manusia Dimulai dari Perjalanan ke Sekolah (Bagian II): Bus yang Berhenti, Harapan yang Tertinggal

 


Dua hari lalu saya menulis bahwa memanusiakan manusia dapat dimulai dari perjalanan seorang anak menuju sekolah. Setelah dipikir-pikir, persoalannya ternyata bukan hanya soal macet, bukan pula sekadar tentang kendaraan. Ia sedang berbicara tentang keberpihakan. Tentang apakah pembangunan benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat, atau hanya berhenti sebagai daftar capaian yang indah dibaca dalam laporan.

 

Beberapa kabupaten di Lampung pernah menerima bantuan bus sekolah dari pemerintah pusat. Lampung Selatan, Lampung Barat, dan Pesawaran adalah sebagian di antaranya. Sebuah ikhtiar yang patut diapresiasi. Namun setelah seremoni usai dan foto-foto peresmian tersimpan rapi, masyarakat justru bertanya, "Bus sekolahnya sekarang di mana?" Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sedang menguji makna pembangunan itu sendiri. Sebab bus sekolah tidak diciptakan untuk menjadi penghuni garasi atau sekadar mempercantik daftar aset pemerintah. Ia seharusnya lelah karena setiap hari mengantar anak-anak menuju sekolah. Kendaraan yang paling mulia bukanlah yang paling mengilap catnya, melainkan yang paling banyak mengangkut harapan.

 

Saya kemudian teringat tahun 1990-an. Saat ongkos angkot di Bandar Lampung masih Rp250 sekali jalan, Bus DAMRI justru menerbitkan karcis khusus pelajar dan mahasiswa seharga Rp100. Bus AKDP jurusan Kota Agung–Rajabasa juga melakukan hal serupa. Ketika penumpang umum membayar sekitar Rp3.500, mahasiswa cukup membayar Rp1.000. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada slogan besar tentang keberpihakan. Yang ada hanyalah kesadaran sederhana bahwa membantu pelajar bukanlah beban, melainkan investasi. Pendidikan ternyata tidak hanya dibangun melalui ruang kelas, tetapi juga melalui kemudahan seorang anak mencapai bangku sekolahnya.

 

Lalu saya bertanya kepada diri sendiri. Apakah perusahaan otobus itu bangkrut karena memberi tarif khusus kepada pelajar? Ternyata tidak. Mereka tetap bertahan, bahkan berkembang. Hari ini armada Tri Dara masih melayani jalur Kota Agung–Rajabasa dengan armada yang jauh lebih baik hingga bus berpendingin udara. Pengalaman itu mengajarkan bahwa kepedulian sosial tidak selalu bertentangan dengan keuntungan usaha. Yang sering kali langka bukan kemampuan, melainkan kemauan untuk melihat pendidikan sebagai investasi yang hasilnya memang tidak datang hari ini, tetapi akan dinikmati oleh generasi berikutnya.


Karena itu saya merasa persoalan transportasi pelajar tidak adil jika seluruhnya dibebankan kepada pemerintah kabupaten atau kota. APBD memang memiliki keterbatasan, tetapi kepedulian tidak mengenal batas anggaran. Sudah saatnya Dinas Perhubungan, sekolah, orang tua, dan perusahaan otobus duduk dalam satu meja yang sama. Pemerintah menghadirkan regulasi yang berpihak, sekolah memetakan kebutuhan siswanya, orang tua membangun kepercayaan untuk menggunakan angkutan bersama, sementara dunia usaha diberi ruang mengambil bagian melalui tarif khusus atau skema pelayanan yang terjangkau. Bukankah peradaban selalu lahir dari kolaborasi, bukan dari saling menunggu?

 

Mungkin tanpa kita sadari, selama ini kita terlalu sibuk menghitung berapa unit kendaraan yang berhasil dibeli, tetapi lupa menghitung berapa banyak anak yang akhirnya dapat berangkat ke sekolah dengan lebih mudah. Kita terlalu bangga memotret kendaraan saat diresmikan, tetapi jarang memotretnya ketika kursi-kursinya dipenuhi seragam putih abu-abu atau putih merah setiap pagi. Padahal nilai sebuah bus sekolah bukan terletak pada nomor aset yang ditempel di bodinya, melainkan pada jumlah mimpi yang diantarkannya setiap hari.

 

Sebab pada akhirnya, memanusiakan manusia tidak selalu dimulai dari proyek yang besar. Kadang ia cukup dimulai dari satu kursi kosong yang sengaja disediakan untuk seorang pelajar. Dari satu tarif yang dibuat lebih murah agar tidak ada orang tua yang harus memilih antara ongkos anaknya atau kebutuhan dapur hari itu. Dari satu perjalanan sederhana menuju sekolah yang ternyata sedang mengantarkan masa depan sebuah bangsa.

 

Sejarah tidak pernah mencatat siapa yang paling banyak membeli bus. Sejarah hanya akan mengingat siapa yang paling banyak mengantarkan anak-anak menuju masa depannya.

Post a Comment

Previous Post Next Post