Tiga hari ini saya merasakan
langsung bagaimana perjalanan seorang orang tua mengantar anak menuju sekolah.
Dari Kemiling menuju SMA di kawasan Gotong Royong, saya melewati jalan-jalan
protokol Kota Bandar Lampung pada jam sibuk, saat berangkat pagi dan ketika
pulang sore hari.
Mungkin pengalaman saya belum
seberapa dibandingkan dengan orang tua lainnya yang setiap hari harus berjibaku
dengan kondisi jalan yang sama. Namun bagi saya, tiga hari perjalanan itu cukup
menghadirkan satu perenungan. Kalau hari ini saja kondisi jalan Bandar Lampung
sudah seperti ini, bagaimana dengan dua, tiga, empat, bahkan lima tahun ke
depan? Ketika jumlah pelajar dan
mahasiswa terus bertambah. Ketika aktivitas ekonomi semakin meningkat. Ketika
kendaraan, khususnya sepeda motor yang digunakan pelajar dan mahasiswa, juga
ikut bertambah memenuhi ruas-ruas jalan kota.
Apakah jalan-jalan kita akan terus
mampu menampung semuanya? Atau jangan-jangan, kemacetan yang hari ini masih
kita keluhkan hanya menjadi gambaran kecil dari persoalan yang lebih besar di
masa depan.
Liburan sekolah dan mahasiswa memang
telah usai. Bersamaan dengan itu, Kota Bandar Lampung kembali memperlihatkan
wajah yang begitu akrab. Jalan-jalan protokol dipenuhi kendaraan. Waktu tempuh
yang sempat terasa bersahabat, perlahan kembali memanjang. Macet seolah pulang
ke rumahnya.
Barangkali beginilah harga sebuah
kota yang sedang bertumbuh. Kendaraan terus bertambah, sementara ruang jalan
tetap itu-itu saja. Setiap pagi, ribuan orang bergerak dengan tujuan yang sama.
Ada yang menuju sekolah, kampus, dan tempat kerja. Semua mengejar waktu, tetapi
pada akhirnya dipaksa berbagi satu hal yang sama: kesabaran.
Kemacetan bukan hanya soal terlambat
sampai tujuan. Ia menguras energi sebelum hari benar-benar dimulai. Ia menguji
emosi. Ia menuntut setiap pengendara lebih waspada agar perjalanan tidak
berakhir menjadi musibah.
Di antara lautan kendaraan itu,
sepeda motor menjadi pemandangan yang paling mendominasi. Banyak dikendarai
oleh pelajar dan mahasiswa. Sebagian sudah tertib, tetapi tidak sedikit yang
masih terburu-buru. Menyalip dari kiri. Berpindah jalur tanpa isyarat. Bergerak
seolah jalan raya hanya miliknya sendiri.
Mungkin mereka sedang mengejar bel
sekolah. Mungkin pula sedang mengejar waktu. Namun jalan raya tidak pernah
mengenal siapa yang paling tergesa. Jalan raya hanya mengenal siapa yang paling
berhati-hati. Lalu muncul pertanyaan sederhana. Benarkah kita sudah memberikan
cara terbaik bagi anak-anak kita untuk berangkat menuntut ilmu? Saya justru membayangkan sesuatu yang pernah
akrab, tetapi perlahan menghilang dari ingatan kita. Bus sekolah.
Bayangkan jika sekolah-sekolah,
terutama sekolah favorit dengan jumlah siswa besar, bekerja sama dengan Dinas
Perhubungan atau asosiasi pemilik bus menyediakan angkutan sekolah yang
terjadwal. Perguruan tinggi pun dapat mengambil peran dalam pola yang sama.
Satu bus dapat menggantikan puluhan
bahkan ratusan sepeda motor yang setiap pagi memenuhi jalan utama Bandar
Lampung. Dampaknya bukan hanya mengurangi kepadatan, tetapi juga menghadirkan
rasa aman bagi anak-anak dan ketenangan bagi orang tua.
Perjalanan menuju sekolah tidak lagi
sekadar berpindah tempat. Di dalam bus dapat diputar video tentang keselamatan
berlalu lintas, pendidikan karakter, etika berkendara, hingga wawasan
kebangsaan. Waktu yang selama ini habis di jalan berubah menjadi ruang belajar
yang sederhana, tetapi bermakna.
Bukankah pendidikan tidak selalu
dimulai ketika guru memasuki kelas? Kadang pendidikan dimulai dari cara kita
menghargai perjalanan menuju sekolah. Ada manfaat lain yang sering luput dari
perhatian. Soal biaya.
Selama ini banyak orang tua harus
menyediakan anggaran harian untuk bahan bakar, parkir, hingga perawatan
kendaraan yang digunakan anaknya berangkat sekolah atau kampus. Dengan adanya
bus sekolah, pengeluaran transportasi keluarga menjadi lebih terukur.
Bahkan akan jauh lebih membantu
apabila pemerintah daerah hadir mengambil peran melalui dukungan biaya operasional
atau subsidi tarif, sehingga ongkos yang harus ditanggung pelajar dan mahasiswa
menjadi lebih ringan.
Biarlah orang tua atau ojol cukup
mengantar atau menjemput anak-anak di titik pemberhentian bus yang telah
ditentukan. Lebih sederhana. Lebih tertib. Lebih menenangkan.
Di sisi lain, Polisi Lalu Lintas pun
akan mendapatkan manfaat yang besar. Energi mereka tidak lagi habis untuk
mengurai kepadatan kendaraan pelajar maupun orang tua yang mengantar anaknya ke
sekolah. Tidak lagi setiap pagi disibukkan menghadapi pengendara yang "sen
kiri belok kanan", berhenti mendadak, atau berpindah jalur tanpa memberi
ruang bagi pengguna jalan lain. Mereka
dapat lebih fokus membangun budaya tertib berlalu lintas daripada sekadar
mengurai persoalan yang sama setiap hari.
Selama ini kita sering berbicara
tentang pelebaran jalan, pembangunan flyover, atau penambahan simpang. Semua
itu memang penting. Namun sesekali kita perlu bertanya.: Apakah solusi
kemacetan selalu harus berupa beton dan aspal?
Mungkin yang kita perlukan adalah
keberanian menghadirkan kembali sistem transportasi pelajar yang lebih
manusiawi. Bus sekolah memang bukan solusi tunggal untuk seluruh persoalan
transportasi kota. Tetapi ia adalah langkah nyata yang bisa dimulai. Kemacetan
berkurang. Risiko kecelakaan dapat ditekan. Pengeluaran keluarga lebih ringan.
Anak-anak lebih aman.
Pada akhirnya, kota yang baik bukan
hanya kota yang memiliki banyak kendaraan. Tetapi kota yang mampu membuat
warganya bergerak dengan aman, nyaman, dan bermartabat. Sebab menyediakan, atau
menghidupkan kembali, bus sekolah sesungguhnya bukan hanya menghadirkan moda
transportasi. Lebih dari itu, ia adalah cara kita memanusiakan manusia.
Anak-anak tidak lagi dipaksa
bertarung dengan kemacetan sebelum mereka belajar. Orang tua tidak lagi
mengawali hari dengan kecemasan. Jalan raya kembali menjadi ruang bersama,
bukan arena berburu waktu yang menguras energi, kesabaran, bahkan keselamatan.
Mungkin kita memang tidak bisa
menghilangkan kemacetan dalam semalam. Namun kita selalu bisa memulai dari satu
langkah sederhana.Memberikan perjalanan yang lebih baik bagi anak-anak kita. Karena
memanusiakan manusia tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang ia dimulai
dari sebuah perjalanan kecil. Perjalanan menuju sekolah.
Post a Comment