Di Titik Sunyi Pendampingan



Pendampingan hari ini berjalan dengan langkah yang lebih tertata, lebih rapi, dan tampak semakin dewasa. Pendamping terlihat semakin sibuk—agenda padat, pertemuan berlapis, laporan saling menyusul. Namun di balik kesibukan itu, ada pertanyaan yang tak banyak disuarakan: mengapa keberdayaan rakyat terasa berjalan di tempat?

 

Pendamping datang membawa program yang sudah selesai dirumuskan. Masyarakat menyambut dengan harapan, lalu mengantar pendamping pulang dengan kebiasaan lama yang tak banyak berubah. Proses terjadi, aktivitas berlangsung, tetapi perubahan sering hanya singgah sebentar.

 

Keberpihakan tidak lagi diucapkan dengan lantang. Ia disimpan dalam bahasa netral, dikemas dalam istilah profesional, dan dijaga agar tidak menyinggung siapa pun. Pendamping berdiri di tengah, berharap semua merasa diakomodasi. Padahal, keseimbangan semacam itu kerap membuat yang paling lemah harus menunggu lebih lama.

 

Bahasa pendampingan semakin canggih, sementara bahasa warga tetap sederhana. Keduanya jarang benar-benar bertemu. Yang satu sibuk memastikan indikator terpenuhi, yang lain tetap bergulat dengan persoalan hidup yang tak masuk kolom laporan.

 

Dalam keheningan itu, pendamping sering kali tahu apa yang seharusnya dibela. Namun suara itu ditahan oleh berbagai pertimbangan. Bukan karena tak peduli, melainkan karena keadaan menuntut kehati-hatian. Di sinilah pendampingan mulai belajar berkompromi dengan dirinya sendiri.

 

Sejarah lokal, dengan segala luka dan kebijaksanaannya, kerap hanya menjadi catatan kaki. Program berjalan seolah masyarakat baru mulai hari ini, padahal mereka telah lama berjalan dengan caranya sendiri.

 

Evaluasi disusun dengan kalimat yang menenangkan. Yang kurang disempurnakan, yang gagal dilunakkan. Bukan untuk menipu, melainkan agar semuanya tetap bisa berjalan. Namun dari situ, pelan-pelan, kejujuran kehilangan ruangnya.

 

Bahkan nilai dan doa hadir dengan bahasa yang tertib. Ia menguatkan batin, tetapi jarang mendorong langkah. Spiritualitas menjadi pengingat, bukan pendorong keberanian.

 

Pendampingan hari ini tidak sepenuhnya keliru. Ia hanya terlalu sibuk memastikan dirinya bekerja. Dan dalam kesibukan itu, keberdayaan rakyat kerap dibiarkan menunggu.

 

Mungkin di titik sunyi inilah pendampingan diuji: apakah ia cukup berani untuk tetap lembut tanpa kehilangan arah—dan cukup sibuk membela, bukan sekadar bekerja.

Post a Comment

Previous Post Next Post