Kuasa, Seperlunya

 



Relasi kuasa sering kita pahami secara sempit, seolah hanya milik mereka yang memegang jabatan, mengenakan seragam, atau memiliki kewenangan formal. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, kuasa bekerja jauh lebih halus. Ia hadir di ruang keluarga, di kelas, di kantor, bahkan dalam percakapan yang tampak biasa. Kuasa jarang mengetuk pintu; ia masuk perlahan, lalu menetap sebagai kewajaran. Justru karena terasa wajar, kuasa sering luput disadari.

 

Relasi kuasa berbicara tentang siapa yang didengar dan siapa yang sekadar mengikuti. Ia jarang muncul sebagai perintah; lebih sering lewat nasihat, aturan, dan bahasa yang terdengar baik-baik saja, namun nyaris tidak menyediakan ruang untuk bertanya. Di titik inilah kuasa menjadi efektif: bekerja dengan legitimasi, bukan paksaan.

 

Dalam masyarakat, kuasa dilembagakan melalui struktur: negara dengan hukum, sekolah dengan kurikulum, kantor dengan SOP, keluarga dengan hierarki. Masalah muncul ketika struktur berhenti mendengar. Suara dari bawah diperlakukan sebagai pelengkap administrasi, kritik dicurigai sebagai pembangkangan, dan pengalaman nyata gagal masuk ke pengambilan keputusan.

 

Contoh sederhana terlihat di sekolah, kantor, organisasi masyarakat, dan keluarga. Guru atau dosen diposisikan sebagai satu-satunya sumber kebenaran, sementara murid cukup menerima. Staf lapangan sering diabaikan karena usulan mereka tidak datang dari meja yang tepat. Warga dianggap tidak kooperatif jika tidak mengikuti alur program. Anak dibiasakan patuh sebelum memahami, orang tua merasa tak perlu menjelaskan keputusan, dan kata-kata seperti “tidak kompeten” atau “belum siap” menjadi alat seleksi yang membatasi ruang. Kuasa bekerja rapi karena dibungkus otoritas.

 

Relasi kuasa menjadi problematis ketika ketimpangan diterima sebagai kewajaran. Yang berpendidikan merasa paling tahu, yang mapan merasa paling pantas menentukan, yang lebih tua merasa tak perlu dikoreksi. Sementara yang berada di bawah belajar diam, bukan karena tak berpikir, tetapi karena tahu suaranya tak akan mengubah apa-apa. Banyak ketimpangan bukan lahir dari perbedaan kapasitas, melainkan dari akses yang sejak awal tidak setara.

 

Dalam negara demokrasi, relasi kuasa yang timpang tidak boleh dinormalisasi. Demokrasi bertumpu pada kesetaraan warga dan partisipasi yang bermakna. Kritik harus diterima sebagai koreksi, pengalaman nyata warga harus masuk ke ruang keputusan, dan warga harus diposisikan sebagai subjek, bukan objek. Menghilangkan relasi kuasa bukan berarti meniadakan struktur, tetapi menata ulang cara kuasa dijalankan agar lebih dialogis, terbuka pada koreksi, dan mengakui bahwa pengetahuan tidak dimonopoli oleh jabatan.

 

Dalam kerja pendampingan, kuasa dikurangi dengan prinsip sederhana: memosisikan diri sebagai penjaga proses, bukan pemilik solusi; lebih banyak bertanya daripada memberi jawaban; menerjemahkan bahasa teknis bersama agar tidak menjadi alat dominasi; menciptakan forum partisipasi yang nyata; membuka informasi; dan merefleksikan posisi diri—siapa yang berbicara, siapa yang menentukan. Kuasa harus bekerja seperlunya: cukup menjaga keteraturan, tetapi tidak membungkam atau mengecilkan suara yang biasanya tak terdengar.

 

Membaca relasi kuasa bukan berarti menolak kepemimpinan atau meniadakan aturan. Yang perlu ditata ulang adalah cara kuasa dijalankan. Kuasa yang tidak disadari menindas; kuasa yang disadari membuka peluang untuk ditata ulang. Tugas kita hari ini bukan mencari siapa paling berwenang, melainkan memastikan tidak ada suara yang sengaja dikecilkan atas nama kewajaran. Di balik banyak hal yang tampak biasa, sering kali ada kuasa yang diam-diam bekerja—tetapi menentukan.

 


Post a Comment

Previous Post Next Post