Antara Pendamping, Penyuluh, dan Konsultan

 


Dalam praktik pembangunan, tiga istilah ini kerap disebut beriringan: pendamping, penyuluh, dan konsultan. Namun di lapangan, ketiganya sering disamakan—seolah hanya beda nama dan honorarium. Padahal, perbedaan mereka bukan administratif, melainkan cara memandang manusia dan perubahan.

 

Penyuluh hadir sebagai penyampai pengetahuan. Ia membawa materi, metode, dan pesan yang dianggap benar. Tugasnya jelas: memastikan informasi sampai dan dipahami.

 

Konsultan datang dengan mandat solusi. Ia membaca masalah, menyusun analisis, lalu menawarkan rekomendasi. Kerjanya rapi, terukur, dan sering berakhir pada laporan yang meyakinkan.

 

Sementara pendamping memilih posisi yang lebih sunyi. Ia tidak datang untuk menggurui atau memberi resep. Ia datang untuk tinggal lebih lama, mendengar lebih dalam, dan percaya bahwa masyarakat bukan objek yang harus diperbaiki, melainkan subjek yang sedang bertumbuh.

 

Di sinilah perbedaan prinsipil itu bermula.

 

Penyuluh berdiri di depan, menunjukkan arah.

Konsultan berdiri di atas meja, menjaga jarak profesional.

Pendamping berdiri di samping—sejajar, kadang tertinggal—memberi ruang bagi masyarakat menemukan jalannya sendiri.

 

Penyuluh bekerja pada transfer pengetahuan.

Konsultan bekerja pada efektivitas solusi.

Pendamping bekerja pada kesadaran dan kepemilikan proses.

 

Di lapangan, perbedaan ini terasa nyata. Penyuluh hadir di forum resmi, pelatihan, dan sosialisasi. Konsultan muncul di fase perencanaan dan evaluasi, lalu pergi membawa data. Pendamping justru hadir di hari-hari biasa: di kebun, di balai desa yang sepi, di obrolan panjang yang tak selalu produktif secara angka.

 

Jika penyuluh bertanya, “Sudah paham?”

Jika konsultan bertanya, “Sudah tercapai?”

Maka pendamping bertanya, “Sudah menjadi milik mereka?”

 

Lalu muncul pertanyaan klasik: mengapa masih perlu pendamping, jika konsultan sudah ada?

 

Karena perubahan tidak lahir dari rekomendasi semata. Konsultan membantu merumuskan apa yang harus dilakukan. Penyuluh membantu menjelaskan bagaimana melakukannya. Pendamping membantu masyarakat menemukan mengapa mereka ingin melakukannya.

 

Perubahan yang tidak berangkat dari “mengapa” hanya akan bertahan selama program berjalan. Setelah anggaran selesai dan para ahli pulang, ia pelan-pelan kehilangan napas.

 

Pendamping dihadirkan bukan untuk mempercepat, melainkan untuk menguatkan. Bukan untuk memastikan target tercapai, tetapi agar perubahan berakar dan tidak mudah tumbang.

 

Pada akhirnya, perbedaan ketiganya kembali pada satu soal sederhana namun mendasar: apakah manusia dipandang sebagai objek intervensi, atau subjek yang sedang belajar berdiri?

 

Pendamping memilih yang kedua.

Dan karena itulah, ia sering tak terdengar—

namun justru bekerja paling lama.

 

 

 

Referensi

 

·        Chambers, R. (1997). Whose Reality Counts? Putting the First Last. London: Intermediate Technology Publications.

·         Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.

·         Pretty, J. (1995). Participatory Learning for Sustainable Agriculture. World Development, Vol. 23(8).

·         Oakley, P. & Marsden, D. (1984). Approaches to Participation in Rural Development. Geneva: ILO.

·         Korten, D. C. (1987). Community Management: Asian Experience and Perspectives. West Hartford: Kumarian Press.

·         Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. (berbagai tahun). Pedoman Pendampingan Masyarakat Desa.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post