Bahaya Pendamping Narsistik



Dalam kerja-kerja pendampingan, ada etika yang jarang dituliskan tetapi selalu diuji oleh waktu: hadir tanpa mengambil alih, menyertai tanpa mendominasi, dan menguatkan tanpa menjadikan diri pusat cerita. Pendampingan bukan panggung. Ia adalah ruang belajar bersama yang menuntut kerendahan hati.

 

Namun etika ini sering runtuh bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena ego yang terlalu lapar akan pengakuan.

 

Pernahkah Anda bertemu seseorang yang kehadirannya terasa melelahkan—bukan karena ia jahat, melainkan karena segala hal selalu harus berputar di sekeliling dirinya? Ia tampak meyakinkan, fasih berbicara, dan penuh pesona. Di luar terlihat kokoh, di dalam rapuh. Ia keras menjaga citra, seolah runtuh adalah aib yang tak boleh terjadi.

 

Dalam konteks tertentu, kita tidak sekadar berhadapan dengan pribadi yang sulit. Bisa jadi, ia sedang bergulat dengan *Narcissistic Personality Disorder* (NPD)—gangguan kepribadian yang membuat seseorang merasa dirinya lebih penting, lebih layak, dan lebih unggul dibandingkan orang lain.

 

Masalahnya menjadi jauh lebih serius ketika pribadi dengan kecenderungan ini diberi peran sebagai pendamping atau fasilitator masyarakat.

 

Pendampingan sejatinya adalah kerja sunyi. Ia menuntut empati yang matang, kesabaran, dan keberanian untuk tidak selalu benar. Namun pada pribadi narsistik, empati kerap hadir sebagai teknik, bukan kesadaran. Mendengar bukan untuk memahami, melainkan untuk mengendalikan arah. Mendampingi bukan untuk menguatkan, tetapi untuk dikagumi.

 

Pribadi dengan NPD umumnya menunjukkan pola perilaku yang menguras emosi orang di sekitarnya. Mereka gemar berfantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, dan keistimewaan diri. Ketika berada di ruang pendampingan, fantasi itu menemukan panggungnya. Forum warga, pelatihan, dan diskusi kelompok perlahan berubah menjadi monolog terselubung. Partisipasi tampak hidup, tetapi jiwa kolektifnya mengering.

 

Mereka hanya nyaman dengan yang dianggap setara. Suara yang berbeda dipinggirkan secara halus. Kritik dibaca sebagai ancaman. Ketika program tidak berjalan sesuai kehendak, amarah mudah muncul. Keberhasilan kelompok diklaim sebagai prestasi pribadi, sementara kegagalan dialihkan kepada keadaan atau masyarakat itu sendiri.

 

Sering kali, narsistik disalahpahami sebagai rasa percaya diri. Padahal keduanya berlawanan arah. Pada pengidap NPD, kepercayaan diri tidak pernah benar-benar berdiri di atas penerimaan diri. Ia rapuh dan sepenuhnya bergantung pada pengakuan eksternal. Dominasi dijadikan tameng, bukan kekuatan. Prestasi menjadi alat pembuktian, bukan ruang syukur.

 

Akibatnya, dalam praktik pemberdayaan, lahirlah ironi yang sunyi: masyarakat tampak bergerak, tetapi tidak bertumbuh. Program berjalan, namun keberanian warga untuk bersuara menyusut. Ruang aman berubah menjadi ruang penilaian. Pendampingan kehilangan ruhnya, tinggal administrasinya.

 

Memang, penyebab NPD tidak tunggal. Ia bisa lahir dari trauma, pola asuh yang timpang, atau luka masa kecil yang tak pernah benar-benar sembuh. Namun memahami asal luka tidak serta-merta membenarkan dampaknya. Luka yang tidak disadari dapat menjelma kuasa yang melukai banyak orang.

 

Karena itu, tanggung jawab tidak boleh sepenuhnya diletakkan di pundak masyarakat sebagai penerima dampak. Negara—melalui pemerintah—memegang peran awal yang menentukan: memastikan siapa yang layak mendampingi, dan siapa yang sebaiknya tidak diberi panggung kekuasaan sosial.

 

Seleksi pendamping tidak cukup mengandalkan kecakapan teknis, pengalaman proyek, atau kefasihan berbicara. Justru di sanalah narsistik sering lolos dengan mulus. Maka seleksi harus berani melampaui kesan. Asesmen psikologis yang independen dan bermakna perlu menjadi bagian serius dari proses seleksi—bukan untuk memberi label, melainkan untuk membaca kapasitas empati, kerendahan hati, dan kemampuan menerima kritik.

 

Rekam jejak sosial pun harus dibaca dengan jujur. Cara seseorang memperlakukan rekan kerja, menyikapi perbedaan pendapat, dan bersikap saat tidak menjadi pusat perhatian sering kali lebih jujur daripada sertifikat dan presentasi yang disusun rapi. Proses seleksi juga perlu menguji keberanian mengakui kegagalan. Pribadi yang sehat mampu berkata, “Saya pernah salah.” Pribadi narsistik cenderung mengalihkan cerita.

 

Lebih dari itu, negara perlu menanamkan satu prinsip penting: pendampingan adalah peran sementara, bukan identitas sosial. Evaluasi berkala yang melibatkan suara masyarakat dampingan menjadi keniscayaan. Pendamping yang membungkam kritik atau memonopoli keputusan harus berani ditegur, bahkan diganti. Negara tidak boleh jatuh cinta pada figur; negara harus setia pada proses.

 

Langkah-langkah ini bukan untuk menstigma gangguan kepribadian. Ini adalah ikhtiar menjaga kewarasan ruang sosial. Sebab pendampingan bukan hanya soal niat baik, melainkan soal dampak jangka panjang terhadap kemandirian dan harga diri masyarakat.

 

Di balik keangkuhan narsistik, sering tersembunyi jiwa yang ketakutan. Namun empati tidak pernah mengharuskan kita kehilangan kewarasan. Memahami luka seseorang tidak berarti membiarkannya menjadi sumber luka bagi yang lain.

 

Sebab dalam kerja-kerja pendampingan,

yang paling berbahaya bukanlah ketidaktahuan,

melainkan ego yang menyamar sebagai kepedulian.

Post a Comment

Previous Post Next Post