Pendamping di Antara Kebijakan dan Nurani



Kami sering membicarakan pembangunan dengan bahasa yang tertib dan penuh keyakinan. Target disusun, indikator ditetapkan, anggaran dialokasikan. Namun di balik kerapian itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: apakah kebijakan yang dijalankan benar-benar berpihak pada masyarakat, atau sekadar menyelesaikan kewajiban administratif.

 

Sebagai pendamping, kami berada di posisi yang tidak sederhana. Kami berdiri di antara kebijakan yang dirumuskan dari atas dan realitas hidup masyarakat di lapangan. Dari pengalaman itu, kami belajar bahwa tidak semua aturan mampu menjawab persoalan konkret, dan tidak semua perintah bisa dijalankan tanpa menyisakan kegelisahan.

 

Pendampingan kerap diposisikan sebagai perpanjangan tangan program. Fokusnya memastikan kegiatan berjalan dan laporan selesai tepat waktu. Ruang dialog dengan masyarakat menyempit, karena target dan administrasi menjadi prioritas. Dalam situasi seperti ini, pendamping berisiko kehilangan peran utamanya sebagai penjaga makna pembangunan.

 

Di sebuah program pendampingan, kami pernah diminta mempercepat program pemberdayaan yang sedang dilaksanakan. Semua indikator telah tersedia, namun masyarakat masih bergulat dengan konflik internal yang belum selesai. Kami memahami bahwa tanpa menyentuh persoalan tersebut, program apa pun hanya akan berjalan di permukaan. Sayangnya, ruang untuk melambat nyaris tidak ada. Target harus dikejar. Program berjalan, laporan selesai, tetapi dampaknya rapuh.

 

Pengalaman lain memperlihatkan partisipasi yang bersifat formal. Warga hadir, menandatangani daftar hadir, lalu pulang. Secara administratif kegiatan dinilai berhasil. Namun di luar ruangan, kami mendengar keluhan pelan—kehadiran itu bukan karena merasa memiliki, melainkan karena sungkan dan takut dianggap tidak mendukung program. Partisipasi direduksi menjadi angka, bukan keterlibatan.

 

Cerita-cerita semacam ini jarang masuk dalam laporan kebijakan. Ia terlalu sunyi untuk dijadikan indikator. Padahal di situlah kebijakan diuji. Pendekatan yang seragam sering berhadapan dengan realitas yang beragam. Desa tidak pernah benar-benar sama, tetapi kebijakan kerap memaksakan kesamaan demi kemudahan pengendalian.

 

Kami tidak menafikan bahwa banyak kebijakan lahir dari niat baik. Namun niat baik tidak selalu melahirkan dampak baik. Ketika kebijakan menekankan capaian jangka pendek, pendampingan dipaksa bergerak cepat. Proses dipangkas, dialog dipercepat, dan keberlanjutan terancam. Yang tertinggal adalah kelelahan sosial yang jarang dicatat.

 

Pendamping seharusnya tidak diposisikan semata sebagai pelaksana, melainkan sebagai penjaga akal sehat pembangunan. Ini menuntut perubahan cara pandang kebijakan: dari mengontrol menjadi mempercayai, dari mengarahkan menjadi menemani. Tanpa itu, keberdayaan hanya akan menjadi istilah yang indah di atas kertas.

 

Mungkin sudah terlalu lama pendamping ditempatkan sebagai kaki kebijakan, bukan sebagai mata dan nuraninya. Ia diminta berjalan cepat, tetapi jarang diberi ruang untuk menoleh—melihat siapa yang tertinggal. Pembangunan pun tampak rapi, tetapi diam-diam menjauh dari manusia.

 

Padahal pembangunan yang bernilai bukanlah yang paling cepat bergerak, melainkan yang paling hati-hati melangkah; bukan yang paling banyak diselesaikan, tetapi yang paling sedikit melukai. Dan di sanalah kami memilih berdiri—di antara kebijakan yang harus dijalankan dan nurani yang tidak boleh ditinggalkan.

 

Post a Comment

أحدث أقدم