Beberapa hari lalu, saya tersandung kabel charger sendiri di ruang tamu. Jatuhnya nggak terlalu parah, tapi cukup untuk membuat saya terhuyung sambil menahan malu. Yang lucu? Saya malah tertawa sendiri. Mentertawakan diri sendiri. Rasanya aneh, tapi setelah itu hati terasa ringan, dan sebentar saja, dunia terasa lebih ramah.
Tertawa itu bukan sekadar “ha-ha-ha”. Ia adalah reaksi fisik dan emosional yang menyehatkan. Otot wajah, dada, dan perut bergerak; hormon stres menurun; hormon bahagia meningkat. Dan percaya atau tidak, tertawa pada diri sendiri adalah salah satu cara paling jujur untuk menerima hidup apa adanya. Ada tertawa spontan saat melihat hal lucu, tertawa sosial untuk mempererat hubungan, tertawa sarkastik untuk menyindir, tertawa canggung saat malu, bahkan tertawa histeris yang muncul begitu saja. Tapi yang paling menenangkan adalah tertawa pada diri sendiri dan kehidupan—misalnya ketika kita gagal masak telur mata sapi, tersesat di jalan yang sama, atau terjebak macet panjang. Kita cuma bisa tersenyum dan bilang: “Ya ampun, hidup memang lucu.”
Dalam agama pun, tertawa itu dianjurkan secara bijak. Dalam hadis, Rasulullah ï·º bersabda bahwa “tertawa secukupnya adalah cahaya bagi hati” (HR. Tirmidzi), dan beliau sendiri dikenal tidak berlebihan dalam tertawa, lebih banyak tersenyum. Kisah lucu dari para sahabat pun sering diceritakan, seperti ketika Abu Hurairah melihat seorang sahabatnya tersandung dan tertawa sambil menolongnya bangkit, menunjukkan bahwa tertawa bisa menjadi cara menyebarkan kebaikan dan keceriaan tanpa merendahkan orang lain.
Setiap waktu adalah waktu yang tepat untuk tertawa. Tertawalah saat senang, saat stres, saat berinteraksi dengan orang lain, dan terutama saat hidup terasa berat. Mentertawakan diri sendiri bukan berarti meremehkan diri, tapi menerima kenyataan dengan ringan hati.
Tertawa itu sederhana, tapi penuh kekuatan. Ia menyehatkan tubuh, meringankan hati, dan membuat kita lebih dekat dengan orang lain—termasuk dengan diri kita sendiri. Jadi, jangan takut tertawa hari ini, bahkan tertawalah pada kekonyolan hidupmu sendiri. Percayalah, hidup terasa lebih ringan ketika kita bisa tertawa, bukan hanya pada orang lain, tapi juga pada diri sendiri.
Post a Comment