Integrasi dan Bunuh Diri Kelas: Belajar Melebur dalam Pendampingan Masyarakat



Ketika pertama kali memasuki desa tertinggal itu, saya membawa semangat besar dan segudang konsep. Ruang pertemuan tampak hidup. Warga hadir, mencatat setiap kata, dan sesekali bertanya. Tapi di balik kesibukan itu, saya merasakan sesuatu yang hambar. Gagasan tidak berlanjut menjadi tindakan, inisiatif seakan menunggu izin, dan partisipasi hadir tanpa benar-benar berakar. Ternyata, keberadaan saya masih berdiri sebagai orang luar—di atas jarak kelas yang tak terlihat.

 

Kesadaran itu menuntut saya menoleh ke diri sendiri. Mungkin yang belum bergerak bukanlah masyarakat, melainkan cara saya hadir di tengah mereka. Saya terlalu sibuk menjadi “pendamping yang tahu”, membawa pengalaman dan solusi, tanpa cukup mendengar atau ikut merasakan kehidupan sehari-hari. Ada jarak kelas yang belum runtuh, dan peran saya masih terlalu rapi untuk menyentuh kehidupan mereka.

 

Sejak saat itu, saya mulai belajar melebur. Lebih sedikit bicara, lebih banyak mendengar. Duduk di sawah, ikut kerja ringan, atau sekadar berbincang di warung kecil dekat rumah warga. Dari obrolan tentang harga gabah, pupuk yang sulit diperoleh, atau anak yang merantau, saya belajar memahami cara mereka memaknai hidup.

 

Di sinilah saya mulai memahami konsep bunuh diri kelas, yang dikemukakan oleh Amílcar Cabral, tokoh pembebasan nasional dari Guinea-Bissau dan Cape Verde. Menurut Cabral:

 

> “The revolutionary petty bourgeoisie must be capable of committing suicide as a class in order to be reborn as revolutionary workers, completely identified with the deepest aspirations of the people to which they belong.” ([Philopedia.org](https://philopedia.org/thinkers/amilcar-lopes-cabral/?utm_source=chatgpt.com))

 

Cabral menjelaskan bahwa anggota kelas menengah atau kelompok dengan posisi sosial lebih tinggi harus mampu melepaskan keistimewaan kelasnya secara sadar, bukan untuk menghapus identitas atau kemampuan, tetapi untuk merendahkan diri secara nyata agar relasi dengan masyarakat menjadi sejajar. Dengan kata lain, bunuh diri kelas adalah proses di mana pendamping membebaskan diri dari “status lebih” untuk memberi ruang pada masyarakat agar mengambil alih proses dan keputusan sendiri.

 

Ketika jarak itu mulai mencair, percakapan pun berubah. Warga mulai menyanggah, menawar, dan mengusulkan. Tidak lagi sekadar mendengar, tetapi ikut menentukan arah proses. Di titik inilah pengorganisasian menemukan denyutnya. Bukan karena pendamping bekerja lebih keras, tetapi karena masyarakat mulai merasakan bahwa proses itu adalah milik mereka sendiri.

 

Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa pendampingan masyarakat bukan terutama soal teknik, modul, atau tahapan yang tersusun rapi, melainkan soal relasi dan kesediaan untuk berjalan sejajar. Integrasi mengajarkan bahwa perubahan tidak bisa dipaksakan dari luar, dan kesadaran tidak tumbuh dari jarak yang dipelihara.

 

Bunuh diri kelas bukanlah kehilangan, melainkan pembebasan. Dengan menanggalkan rasa lebih, pendamping memperoleh sesuatu yang lebih berharga: kepercayaan. Dari sanalah pengorganisasian menemukan akarnya, dan masyarakat mulai bergerak atas kehendaknya sendiri.

 

Pendamping mungkin tidak selalu terlihat berjasa. Namanya jarang disebut, perannya kerap samar. Namun justru di sanalah keberhasilan diuji—ketika masyarakat mampu melangkah tanpa bergantung, dan pendamping dengan lapang dada bersedia mundur.

 

Mungkin itulah hakikat integrasi: hadir sepenuh hati, melebur tanpa kehilangan nurani, dan pada akhirnya rela tak lagi menjadi pusat cerita.

 


Post a Comment

أحدث أقدم