Pemberdayaan masyarakat bukan sekadar angka, program, atau capaian statistik. Ia adalah cara kita menatap pertumbuhan, menata kekuatan, dan merawat hubungan sosial agar tidak timpang. Prinsip menghormati yang kecil, mengembangkan yang sedang berkembang, dan menjaga yang besar menjadi panduan etis yang sederhana, tapi sarat makna.
Menghormati yang kecil adalah langkah pertama. Sejalan dengan teori keadilan sosial John Rawls (1971), ketimpangan hanya bisa dibenarkan bila memberi manfaat bagi yang paling lemah. Kelompok kecil—dari sisi ekonomi, akses, maupun posisi sosial—sering menjadi pihak paling terdampak, namun paling jarang didengar. Penghormatan bukan tentang memberi keistimewaan, melainkan tentang mengakui martabat mereka, memberi ruang untuk bersuara, dan memastikan perlindungan agar mereka tidak tersingkir. Ketika yang kecil dihargai, dunia belajar bersikap lembut.
Mengembangkan yang sedang berkembang menuntut perhatian, kesabaran, dan ketekunan. Amartya Sen (1999) menekankan bahwa pembangunan sejati adalah memperluas kemampuan setiap individu untuk menjalani kehidupan yang bermakna. Kelompok yang mulai bertumbuh membutuhkan dorongan nyata—akses pembiayaan, peningkatan kapasitas, jejaring, dan pendampingan. Mengembangkan yang sedang bukan soal cepat-cepat memperbesar, tetapi memastikan pertumbuhan itu kokoh, berkelanjutan, dan memberi manfaat nyata bagi kehidupan mereka. Seperti benih yang disiram dengan tekun, kemampuan akan tumbuh, lambat tapi pasti.
Menjaga yang besar bukan soal memanjakan. Pierre Bourdieu (1986) mengingatkan bahwa mereka yang memiliki posisi strategis dalam jejaring sosial dan ekonomi juga memikul tanggung jawab besar. Penjagaan berarti memastikan kekuatan mereka tidak berubah menjadi dominasi yang merugikan yang lain. Regulasi yang adil, pengawasan konsisten, dan dorongan tanggung jawab sosial menjadi cara menyeimbangkan peran mereka, agar yang besar tetap menjadi penopang, bukan sumber ketimpangan baru. Kekuatan yang dijaga dengan bijak menjadi penyangga, bukan beban bagi yang lain.
Dalam perjalanan panjang pembangunan, kita belajar bahwa pemberdayaan masyarakat adalah kerja sunyi merawat kehidupan bersama. Ia menuntut kepekaan untuk melihat yang kecil sebelum benar-benar hilang, kesabaran menumbuhkan yang sedang berjuang naik, serta kebijaksanaan menjaga yang besar agar tidak melampaui batasnya. Di sanalah pembangunan menemukan wajahnya yang paling manusiawi—ketika kemajuan tidak hanya dirayakan sebagian, tetapi dirasakan sebagai milik bersama. Seperti sungai yang mengalir, kemajuan yang sejati menyentuh semua, tanpa meninggalkan yang tersisih.
إرسال تعليق