Aktivisme kini menjadi istilah yang akrab di dunia kerja
sosial. Banyak yang menyebut dirinya aktivis, baik pendamping komunitas,
penggerak program, maupun pengelola proyek. Namun seringkali sebutan itu lebih
mudah diucapkan daripada dibuktikan. Di tengah target dan indikator yang
mengikat, pertanyaan sederhana namun krusial kerap terlupakan: apakah apa yang kita lakukan sungguh membawa
perubahan, atau sekadar memenuhi agenda proyek?
Tiga hal seharusnya menjadi cermin bagi setiap aktivis yang
bekerja di lapangan sosial: pengorganisasian, advokasi, dan mobilisasi.
Pertama, pengorganisasian. Ini bukan sekadar menggelar pertemuan atau
pelatihan. Pengorganisasian adalah proses menumbuhkan kesadaran dan kepemimpinan
lokal, serta memperkuat jaringan dan kepercayaan di antara warga. Jika program
selesai tetapi warga masih menunggu arahan, patut dipertanyakan apa yang
benar-benar telah dibangun. Aktivisme yang sejati mengajarkan bahwa
keberhasilan bukan diukur dari jumlah kegiatan, melainkan dari kemampuan
komunitas bergerak mandiri.
Kedua, advokasi. Tujuan advokasi adalah memperjuangkan
kepentingan publik, bukan sekadar memoles laporan dan proposal. Advokasi
kehilangan makna ketika suara warga digantikan narasi pendamping. Aktivis yang
jujur selalu memastikan bahwa warga tetap menjadi subjek, bukan objek, dari
setiap upaya perubahan. Tanpa itu, advokasi hanyalah formalitas yang
rapi—terlihat efektif, namun miskin legitimasi.
Ketiga, mobilisasi. Keramaian sering diukur sebagai keberhasilan.
Padahal yang penting bukan jumlah, tetapi kesadaran dan motivasi yang mendorong
orang bergerak. Mobilisasi yang kuat lahir dari keyakinan warga, dan akan
bertahan meski agenda selesai. Sebaliknya, mobilisasi yang hanya mengikuti
arahan proyek akan hilang begitu kegiatan usai.
Pertanyaan-pertanyaan ini sederhana, namun menuntut
kejujuran. Aktivisme bukan sekadar soal pelaporan atau reputasi. Ia adalah
proses yang menuntut integritas, kesabaran, dan keberanian untuk menahan ego.
Dunia proyek mungkin mengukur keberhasilan dengan angka dan daftar hadir, tapi
perubahan sosial hanya bisa diukur melalui kualitas kehidupan dan kemandirian
warga.
Di sinilah garis yang membedakan antara mereka yang
benar-benar aktivis dan mereka yang sekadar bekerja dalam proyek. Aktivisme
yang sejati mengakui: kerja kita menyentuh hidup orang lain, dan setiap pilihan
selalu membawa konsekuensi. Dan lebih dari itu, pertanggungjawaban seorang
aktivis tidak berhenti di dunia. Amanah ini akan dimintai pertanggungjawaban,
kelak, di hadapan sesuatu yang lebih tinggi—di mana laporan dan indikator tidak
berlaku, hanya niat dan kejujuran hati yang menilai.
Post a Comment