Partisipasi
kerap diperlakukan seperti doa yang dihafal, bukan diamalkan. Ia diucapkan
dengan khidmat, ditulis rapi dalam proposal, lalu dijalankan sekadarnya. Dalam
pendampingan masyarakat, partisipasi sering selesai pada tata cara, belum
sampai pada kesungguhan niat.
Ritual
selalu tertib. Ada forum, ada daftar hadir, ada kesimpulan. Namun ketertiban
tidak selalu berarti kejujuran. Banyak suara hadir tanpa pernah sungguh-sungguh
dititipkan pada keputusan. Masyarakat pulang membawa sisa tanya, sementara
laporan berjalan dengan keyakinan penuh.
Partisipasi
sejati tidak tumbuh dari undangan, tetapi dari rasa dipercaya. Ia menuntut
waktu, kesabaran, dan keberanian untuk menunda kesimpulan. Dalam pendampingan,
godaan terbesar bukan penolakan masyarakat, melainkan keinginan kita sendiri
untuk segera merasa benar.
Pendamping
sering datang dengan niat baik dan metode yang meyakinkan. Tetapi niat baik
yang tidak dijaga mudah berubah menjadi kesombongan yang halus. Kita berbicara
atas nama, mengarahkan atas dasar pengalaman, dan lupa bahwa amanah terbesar
adalah tidak mengambil alih suara orang lain.
Ancaman
paling berbahaya bagi partisipasi bukan konflik, melainkan kepura-puraan.
Ketika semua tampak setuju, ketika proses terasa terlalu lancar, sering kali di
situlah kelelahan disembunyikan. Diam bukan selalu tanda setuju, kadang ia
adalah bentuk paling jujur dari kekecewaan.
Partisipasi
bukan soal ramai atau sepi, tetapi soal kehadiran batin. Ia lahir ketika orang
merasa aman untuk berbeda, dan percaya bahwa kata-katanya tidak akan
disalahgunakan. Di titik ini, pendampingan berubah menjadi laku menahan
diri—lebih banyak mendengar, lebih sedikit mengarahkan.
Partisipasi
tidak pernah netral. Ia selalu berhadapan dengan kuasa, termasuk kuasa
pengetahuan dan kuasa niat. Maka pertanyaannya bukan seberapa sering kita
melibatkan, tetapi seberapa jauh kita bersedia bertanggung jawab atas dampak
dari setiap keputusan yang kita dorong.
Pada
akhirnya, partisipasi bukan sesuatu yang perlu kita hidupkan. Ia sudah ada.
Tugas kita hanya satu: tidak mematikannya dengan tergesa, dengan merasa paling
tahu, atau dengan lupa bahwa setiap suara adalah titipan yang kelak harus
dipertanggungjawabkan.
Di situlah
ritual berubah menjadi ibadah sunyi—ketika menemani menjadi bentuk kerendahan
hati, dan mendengarkan menjadi cara paling jujur untuk menjaga amanah.
إرسال تعليق