Ada banyak hal yang setiap hari kita lakukan, tetapi jarang kita jadikan bahan percakapan bersama. Ia ada di dalam rumah, mengalir di bawah lantai, berakhir di dalam tangki yang tertutup rapat. Kita tahu ia ada, tetapi kita memilih untuk tidak membicarakannya terlalu jauh.
Sanitasi adalah salah satu di antaranya.
Ia bukan isu yang mudah dibawa ke ruang publik. Ia tidak sepopuler pembangunan jalan, tidak seindah taman kota, dan tidak seheroik proyek infrastruktur yang sering kita banggakan. Namun justru dari sanitasilah kualitas kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan sering kali ditentukan.
Salah satu upaya yang kini mulai diperkenalkan adalah Layanan Lumpur Tinja Terjadwal, sebuah sistem yang mendorong pengelolaan lumpur tinja secara berkala dan terencana. Gagasan ini sebenarnya sederhana. Lumpur tinja tidak dibiarkan menunggu penuh lalu disedot ketika sudah menjadi masalah, tetapi dikelola secara rutin agar lingkungan tetap aman dan sehat.
Namun di balik kesederhanaan gagasan itu, ada pekerjaan besar yang sering luput dari perhatian: membangun kesadaran bersama.
Sistem sanitasi tidak hanya membutuhkan infrastruktur. Ia membutuhkan pemahaman, kepercayaan, dan perubahan perilaku masyarakat. Di sinilah komunikasi menjadi sangat penting.
Tanpa komunikasi yang baik, program publik sering berjalan seperti pesan yang tidak pernah benar benar sampai kepada mereka yang seharusnya menerima.
Hasil penilaian mandiri terhadap dukungan komunikasi dan sosial dalam program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal di Kabupaten Lampung Selatan memberikan gambaran yang cukup jujur tentang kondisi tersebut. Dari total bobot penilaian seratus poin, capaian kapasitas komunikasi yang tersedia baru berada pada angka tiga koma lima persen.
Angka itu bukan sekadar statistik administratif. Ia adalah cermin bahwa sanitasi, sejauh ini, belum sepenuhnya menjadi percakapan bersama antara pemerintah dan masyarakat.
Programnya ada, gagasannya sudah mulai diperkenalkan, tetapi ruang dialog yang menghubungkan kebijakan dengan kesadaran publik masih sangat terbatas.
Beberapa fondasi komunikasi yang seharusnya menopang program ini memang belum terbentuk secara utuh. Regulasi yang secara khusus memandatkan kegiatan sosialisasi belum tersedia. Alokasi anggaran komunikasi belum disiapkan secara khusus. Tenaga yang bertanggung jawab membangun komunikasi publik juga belum terbentuk secara jelas dalam struktur kelembagaan.
Akibatnya, kegiatan sosialisasi sering kali muncul hanya pada momentum tertentu, misalnya ketika ada kegiatan proyek atau program baru. Setelah itu, percakapan tentang sanitasi kembali sunyi.
Padahal perubahan perilaku tidak pernah lahir dari pertemuan yang hanya sekali dua kali. Ia tumbuh dari proses komunikasi yang terus menerus, dari pesan yang diulang, dari dialog yang perlahan membangun kesadaran kolektif.
Di tengah perkembangan teknologi hari ini, komunikasi sering kali disederhanakan hanya pada aktivitas media sosial. Program dianggap sudah disosialisasikan ketika sebuah poster diunggah di Instagram atau sebuah video singkat dipublikasikan di TikTok.
Padahal komunikasi publik tidak pernah sesederhana itu.
Media sosial memang penting sebagai sarana penyebaran informasi, tetapi ia tidak cukup untuk membangun perubahan perilaku masyarakat. Sanitasi bukan sekadar informasi yang dibaca sekilas di layar ponsel. Ia menyangkut kebiasaan hidup yang telah terbentuk bertahun tahun.
Karena itu komunikasi sanitasi tidak cukup hanya berhenti di ruang digital. Ia harus hadir di ruang ruang sosial tempat masyarakat benar benar hidup. Di balai desa, di pertemuan warga, di pengajian, di sekolah, di posyandu, bahkan di percakapan santai di warung kopi.
Di sanalah kesadaran sering lahir.
Sanitasi sesungguhnya bukan hanya persoalan teknis pengelolaan limbah. Ia juga persoalan sosial tentang bagaimana masyarakat memahami hubungan antara kebersihan lingkungan dan kesehatan keluarga mereka.
Ketika masyarakat tidak melihat kaitan itu secara jelas, sanitasi akan selalu dianggap sebagai urusan tambahan yang tidak terlalu mendesak.
Kondisi ini juga menunjukkan bahwa komunikasi dalam program sanitasi masih sering ditempatkan sebagai bagian pelengkap, bukan sebagai bagian inti dari pelayanan publik. Padahal dalam banyak pengalaman pembangunan, keberhasilan sebuah program sering kali justru ditentukan oleh sejauh mana masyarakat memahami dan merasa memiliki program tersebut.
Sanitasi tidak akan berjalan baik jika ia hanya menjadi urusan teknis di balik meja birokrasi. Ia harus menjadi percakapan yang hidup di tengah masyarakat.
Dalam konteks masyarakat Lampung yang kaya dengan nilai nilai sosial dan budaya, pendekatan komunikasi sebenarnya memiliki ruang yang sangat luas untuk berkembang. Nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap lingkungan bisa menjadi pintu masuk yang kuat untuk menyampaikan pesan sanitasi.
Tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat juga memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kesadaran tersebut. Suara mereka sering kali lebih mudah diterima karena lahir dari kedekatan sosial yang sudah lama terbangun.
Ketika pesan sanitasi disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat, ia tidak lagi terasa sebagai program pemerintah semata, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
Karena itu penguatan komunikasi menjadi langkah yang tidak bisa ditunda. Regulasi komunikasi sanitasi perlu disusun agar kegiatan sosialisasi memiliki dasar yang jelas. Tim komunikasi perlu dibentuk agar pesan program dapat disampaikan secara konsisten. Anggaran edukasi masyarakat perlu disiapkan agar proses penyadaran dapat berjalan berkelanjutan.
Yang tidak kalah penting adalah membangun cara berkomunikasi yang lebih membumi. Sanitasi tidak cukup dijelaskan dengan istilah teknis. Ia harus dihubungkan dengan pengalaman sehari hari masyarakat, dengan kesehatan anak anak, dengan kualitas air yang mereka gunakan, dengan masa depan lingkungan tempat mereka hidup.
Pada akhirnya, sanitasi selalu membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana sebuah masyarakat merawat kehidupannya sendiri.
Kita sering membanggakan pembangunan yang tampak di permukaan. Jalan yang mulus, bangunan yang megah, dan fasilitas yang semakin modern. Tetapi kualitas peradaban sering kali justru diuji dari hal hal yang tidak terlihat.
Dari bagaimana kita mengelola air yang kita gunakan, dari bagaimana kita menjaga tanah yang kita pijak, dan dari bagaimana kita bertanggung jawab atas hal hal yang setiap hari kita buang.
Karena peradaban yang matang bukan hanya yang mampu membangun yang besar besar.
Peradaban yang matang adalah yang mampu menjadikan bahkan urusan paling sederhana sekalipun sebagai bagian dari kesadaran bersama.

Post a Comment