Siang ini, Kamis, 11 Juni 2026, sebuah pengumuman di https://lampung.spmb.id/030701/hasil. Anak kami, Aqil Fahd
Pathi Ilalang, dinyatakan diterima di SMA Negeri 2 Bandar Lampung melalui jalur
prestasi. Ketika saya membuka laman pengumuman, namanya tercantum pada urutan
ke-7 dengan nilai akhir 79,41.
Sebagai orang tua, tentu ada rasa syukur dan bangga.
Namun terus terang, bukan urutan ke-7 itu yang paling membuat hati saya hangat.
Yang terlintas justru perjalanan panjang yang mengantarkannya sampai di titik
itu. Sebab setiap hasil selalu memiliki cerita yang tidak ikut diumumkan
bersama angka-angka.
Beberapa bulan lalu, menjelang ujian akhir di SMPN 2
Bandar Lampung, Aqil meminta dibelikan sebuah buku berjudul TOP BOOK Supertrik
Kuasai Materi & Soal-Soal Ujian SMP Kelas IX. Permintaannya sederhana. Ia
tidak meminta les tambahan atau fasilitas belajar yang berlebihan. Ia hanya
ingin memiliki pegangan untuk belajar.
Sebagai Bapak, saya justru lebih sering melihat hal lain
yang kadang membuat kesal. Aqil termasuk anak yang sulit dibangunkan saat
subuh. Berkali-kali saya menegurnya. Bahkan pernah dalam hati saya menyimpulkan
bahwa ia terlalu banyak bermain game hingga larut malam.
Namun suatu hari istri saya membantah dugaan itu.
Menurutnya, beberapa malam terakhir Aqil justru belajar bersama teman-temannya
melalui video call. Mereka berdiskusi, membahas soal, dan saling mengoreksi
jawaban hingga larut malam. Saya terdiam. Mungkin beginilah cara anak-anak
zaman sekarang belajar. Tidak selalu terlihat sedang membuka buku, tetapi tetap
sedang berusaha memahami pelajaran.
Beberapa waktu kemudian Aqil membagikan kabar di grup
WhatsApp keluarga bahwa ia memperoleh nilai 100 untuk mata pelajaran Matematika
pada Ujian Sekolah Tahun 2026. Belakangan saya mengetahui bahwa nilai sempurna
itu hanya diraih oleh dua siswa di SMPN 2 Bandar Lampung. Ketika saya
menceritakan hal tersebut kepada istri, ia hanya tersenyum dan berkata,
"Nilai Matematika 100 itu hasilnya."
Kalimat sederhana itu terasa seperti teguran. Betapa
mudahnya orang tua menilai sesuatu dari apa yang tampak di permukaan, padahal
tidak semua proses terlihat oleh mata.
Perjalanan itu kemudian berlanjut. Aqil memiliki
rata-rata nilai rapor 93,06. Ia mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan
memperoleh rata-rata nilai 81,67. Pada tanggal 8 Juni 2026, ia mengikuti Tes
Potensi Akademik (TPA) di SMA Negeri 2 Bandar Lampung dan memperoleh nilai
89,99. Tiga hari kemudian hasil seleksi diumumkan. Dari seluruh komponen
penilaian yang dihitung panitia, Aqil memperoleh nilai akhir 79,41 dan diterima
melalui jalur prestasi dengan menempati urutan ke-7.
Namun semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa
bahwa angka-angka itu hanyalah penanda perjalanan. Sebab sebelum hasil itu
muncul di layar pengumuman, ada kebiasaan membaca, ada kedisiplinan, ada
tanggung jawab, dan ada proses panjang yang tidak pernah terlihat oleh banyak
orang.
Perasaan itu semakin kuat ketika saya membaca laporan
hasil belajar Aqil. Yang menarik perhatian saya justru bukan nilai dan bukan
pula ranking, melainkan catatan kokurikuler yang ditulis sekolah. Di sana
disebutkan bahwa ia memiliki kebiasaan membaca lebih dari empat buku setiap
pekan, mampu merefleksikan informasi dengan baik, menggunakan pertimbangan
logis dalam mengambil keputusan, membiasakan diri berdoa dan beribadah, hadir
lebih awal ke sekolah, serta menunjukkan antusiasme dalam berbagai kegiatan.
Saya membaca bagian itu lebih lama dibandingkan melihat
angka-angka di halaman sebelumnya. Sebab untuk pertama kalinya saya merasa
sekolah sedang bercerita tentang seorang anak, bukan sekadar melaporkan hasil
ujian.
Saya kemudian teringat pada arah perubahan pendidikan
yang mulai diperkenalkan sejak masa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies
Baswedan. Saat itu muncul kesadaran bahwa sekolah tidak hanya bertugas
menghasilkan siswa yang pandai menjawab soal, tetapi juga membantu membentuk
manusia yang mampu berpikir, membaca, berefleksi, berempati, dan hidup bersama
orang lain.
Barangkali karena itulah, di tengah hangatnya
perbincangan tentang sekolah favorit, jalur prestasi, dan peluang masuk
Perguruan Tinggi Negeri, saya sering bertanya pada diri sendiri: apa sebenarnya
tujuan pendidikan?
Belakangan ini masyarakat Lampung ramai membicarakan
capaian beberapa sekolah yang berhasil mengantarkan hampir seluruh siswanya
diterima di PTN. Tentu itu prestasi yang patut diapresiasi. Namun di tengah
euforia tersebut, saya juga mendengar pandangan yang menarik. Tidak semua anak
harus masuk PTN. Banyak lulusan perguruan tinggi swasta yang berhasil membangun
karier, menjadi profesional, bahkan menjadi pemimpin.
Pada akhirnya dunia tidak hanya bertanya seseorang
berasal dari sekolah atau kampus mana. Dunia lebih sering bertanya apa yang
mampu ia kerjakan dan bagaimana ia memperlakukan orang lain.
Mungkin karena itulah saya sering merasa bahwa negeri ini
sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Setiap tahun sekolah dan kampus
meluluskan ribuan siswa berprestasi. Namun pada saat yang sama, kita masih
sering menjumpai orang-orang yang sangat cerdas secara akademik tetapi
kesulitan memahami manusia. Mereka pandai membaca data, tetapi gagal membaca
kegelisahan. Mereka mahir menyusun konsep, tetapi kurang mampu mendengar
keluhan. Mereka fasih berbicara tentang perubahan, tetapi sering kehilangan
kepekaan terhadap kenyataan.
Tidak sedikit pula pemimpin yang memiliki pendidikan
tinggi dan gelar yang mengagumkan. Namun ketika berhadapan dengan rakyat yang
dipimpinnya, mereka tampak lebih dekat dengan angka daripada manusia. Seolah
lebih akrab dengan laporan daripada kenyataan yang sedang dihadapi masyarakat.
Barangkali sejak lama kita terlalu sibuk mengukur
kecerdasan akademik, sementara kecerdasan sosial dibiarkan tumbuh sendiri kalau
sempat. Padahal empati tidak pernah muncul di buku rapor. Kemampuan mendengar
tidak pernah tercantum dalam ranking kelas. Kejujuran tidak selalu mendapatkan
nilai tertinggi. Kerendahan hati tidak pernah diujikan saat kelulusan.
Karena itu, ketika melihat nama Aqil berada pada urutan
ke-7 daftar penerimaan SMA Negeri 2 Bandar Lampung siang ini, yang paling
membuat saya bersyukur bukanlah peringkat tersebut. Saya justru teringat pada
buku yang pernah ia minta, pada malam-malam belajar bersama teman-temannya,
pada nilai Matematika 100 yang pernah ia raih, dan pada catatan kecil yang
ditulis gurunya tentang kebiasaan membaca, disiplin, serta tanggung jawab.
Sebab nilai rapor suatu hari akan tersimpan di dalam
lemari. Nama sekolah perlahan akan menjadi kenangan. Bahkan gelar akademik pada
akhirnya hanya akan menjadi beberapa huruf di belakang nama. Namun kemampuan
memahami manusia, bertanggung jawab atas pilihan, menjaga empati, dan tetap
rendah hati ketika berhasil adalah bekal yang akan menemani seseorang sepanjang
hidupnya.
Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk perburuan nilai,
ranking, sekolah favorit, dan kampus favorit, ada satu hal yang justru paling
menentukan masa depan seseorang. Sesuatu yang sering luput dari perhatian kita.
Sesuatu yang tidak selalu diumumkan saat pembagian rapor.
Sesuatu yang sampai hari ini masih belum tercantum di
buku rapor.

.jpeg)


Post a Comment