Yang Tidak Tercantum di Buku Rapor

 



Pagi tadi, sebuah pesan WhatsApp dari istri saya datang seperti kabar baik yang sederhana. Anak kami, Aqil Fahd Pathi Ilalang, memperoleh peringkat reguler ke-17 di sekolahnya dan berhak mendaftar ke SMA Negeri 2 Bandar Lampung melalui jalur prestasi. Sebagai orang tua, tentu ada rasa syukur dan bangga. Tetapi terus terang, bukan angka 17 itu yang paling membuat hati kami hangat. Angka hanyalah angka. Yang lebih berarti adalah kenyataan bahwa setiap capaian selalu lahir dari sebuah proses, dan proses itulah yang sering kali luput kita rayakan.


Tiba-tiba saya teringat beberapa bulan lalu. Menjelang ujian akhir di SMPN 2 Bandar Lampung, Aqil meminta dibelikan sebuah buku berjudul TOP BOOK Supertrik Kuasai Materi & Soal-Soal Ujian SMP Kelas IX karya Tim Sigma. Permintaannya sederhana. Tidak ada permintaan les tambahan. Tidak ada target muluk-muluk. Ia hanya ingin memiliki pegangan untuk belajar.


Beberapa waktu kemudian Aqil membagikan kabar di grup WhatsApp keluarga bahwa pada Ujian Sekolah Tahun 2026 ia memperoleh nilai 100 untuk mata pelajaran Matematika. Belakangan saya mengetahui bahwa nilai sempurna tersebut hanya diraih oleh dua siswa di SMPN 2 Bandar Lampung.


Terus terang, sebagai Bapak saya justru lebih sering melihat sisi lain yang kadang membuat kesal. Aqil termasuk anak yang sulit dibangunkan saat waktu subuh tiba. Berkali-kali saya menegurnya. Bahkan pernah dalam hati saya menjatuhkan vonis sederhana: anak ini pasti terlalu banyak bermain game online sampai larut malam.

Namun suatu hari istri saya membantah dugaan itu.

"Tidak juga," katanya.


Menurut istri saya, beberapa malam terakhir Aqil justru sering belajar bersama teman-temannya melalui video call. Mereka membahas soal-soal pelajaran, saling bertanya, saling mengoreksi jawaban, dan terkadang berlangsung hingga larut malam.

Saya terdiam.


Mungkin beginilah cara anak-anak zaman sekarang belajar. Tidak selalu duduk di ruang les. Tidak selalu terlihat sedang membuka buku di hadapan orang tuanya. Kadang mereka belajar dengan cara yang tidak sepenuhnya dipahami oleh generasi kami.


Lalu istri saya menutup penjelasannya dengan kalimat yang sampai hari ini masih saya ingat.

"Nilai Matematika 100 itu hasilnya."



Kalimat itu membuat saya tersenyum sekaligus merasa ditegur. Betapa mudahnya orang tua mengambil kesimpulan dari apa yang tampak di permukaan. Padahal tidak semua proses bisa langsung terlihat oleh mata.


Dan pagi tadi, sebelum kabar tentang ranking itu datang, Aqil membagikan hasil Tes Kemampuan Akademik yang baru diterimanya. Nilai Bahasa Indonesianya 83,33, Matematika 80, dengan rata-rata 81,66 dari kedua mata pelajaran tersebut.


Sebagai orang tua, tentu saya bersyukur. Namun semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa yang layak dirayakan bukanlah angka-angka itu. Sebab sebelum angka tersebut muncul di atas kertas, ada rasa ingin tahu yang tumbuh perlahan, ada kebiasaan belajar yang dibangun tanpa paksaan, ada tanggung jawab yang mulai belajar berdiri di atas kakinya sendiri. Dan mungkin, itulah bagian terpenting dari pendidikan yang sering tidak terlihat dalam lembar hasil ujian.


Barangkali karena itulah, di tengah hangatnya obrolan tentang kelulusan SMP dan persiapan masuk SMA, pikiran saya justru melayang pada cara kita memaknai pendidikan. Hari-hari ini para orang tua sedang ramai membicarakan sekolah favorit, jalur prestasi, nilai rapor, hingga peluang masuk Perguruan Tinggi Negeri.


Obrolan itu semakin hangat setelah beredarnya berita tentang capaian beberapa sekolah di Lampung. SMAN 14 Bandar Lampung berhasil mengantarkan 100 persen siswanya diterima di Perguruan Tinggi Negeri pada tahun 2026. Tak lama kemudian muncul kabar bahwa SMAN 1 Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, mencatatkan 99 persen siswanya diterima di berbagai PTN.


Tentu itu kabar yang membanggakan. Di balik angka-angka tersebut ada kerja keras siswa, guru, orang tua, dan lingkungan sekolah yang patut dihormati. Namun seperti biasa, setiap kali sebuah prestasi diumumkan, kita sering lebih terpukau pada hasil daripada perjalanan panjang yang melahirkannya.


Sebagian orang tua mulai sibuk menghitung peluang. Sebagian lain mulai membandingkan sekolah. Ada yang berburu informasi tentang bimbingan belajar terbaik. Ada pula yang mulai menyusun strategi agar anaknya kelak bisa mengikuti jejak yang sama.


Tidak ada yang salah dengan semua itu. Setiap orang tua tentu menginginkan masa depan terbaik bagi anak-anaknya.


Namun di tengah percakapan tersebut, saya juga mendengar pandangan yang menarik. Ada  yang berpendapat bahwa tidak semua anak harus masuk Perguruan Tinggi Negeri. Sebab kenyataannya, banyak lulusan perguruan tinggi swasta yang mampu berprestasi, memiliki karier yang baik, bahkan menjadi pemimpin di berbagai bidang. Dunia kerja pada akhirnya tidak hanya bertanya dari kampus mana seseorang berasal, tetapi juga apa yang mampu ia kerjakan dan bagaimana ia menghadapi kehidupan.




Saya termasuk orang yang percaya bahwa pendidikan tidak seharusnya hanya menjadi perlombaan menuju satu pintu yang sama. Pendidikan adalah proses menemukan jalan hidup yang sesuai bagi setiap anak.


Karena itu, selama ini saya dan istri tidak pernah terlalu memaksa Aqil. Ia tidak pernah mengikuti bimbingan belajar yang berlapis-lapis. Saat ujian berlangsung, kami juga tidak pernah memintanya belajar sampai larut malam. Kami lebih sering mengingatkan agar ia bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri.


Mungkin cara pandang seperti ini tidak selalu populer.


Sebab hari ini kita hidup di zaman ketika angka sering kali lebih mudah dipamerkan daripada proses. Ranking lebih cepat mendapat tepuk tangan daripada kejujuran. Nilai rapor lebih sering dibicarakan daripada karakter.


Padahal hidup tidak hanya meminta seseorang menjadi pintar.


Hidup juga meminta seseorang untuk bertanggung jawab atas pilihannya.


Saya pernah mendengar seorang orang tua berkata bahwa yang paling penting bukanlah nilai rapor anaknya, melainkan apakah anak itu memahami konsekuensi dari setiap keputusan yang ia ambil.


Jika ia rajin belajar, ia akan menikmati hasilnya. Jika ia memilih bermalas-malasan, ia juga harus siap menerima akibatnya. Jika ia memilih sebuah jalan hidup, ia harus siap berjalan di atas pilihannya sendiri.


Sebab kehidupan tidak menyediakan kunci jawaban seperti yang sering ditemukan di lembar latihan sekolah.


Mungkin karena itulah saya sering merasa bahwa negeri ini sebenarnya tidak kekurangan orang pintar.


Setiap tahun sekolah dan kampus meluluskan ribuan siswa berprestasi. Sarjana, magister, doktor, dan berbagai pemegang sertifikat keahlian terus bertambah. Namun pada saat yang sama, kita masih sering menjumpai orang-orang yang sangat cerdas secara akademik tetapi kesulitan memahami manusia.


Mereka pandai menyusun konsep, tetapi kurang sabar mendengar keluhan. Mereka mahir membaca data, tetapi gagal membaca kegelisahan. Mereka fasih berbicara tentang teori perubahan, tetapi bingung menghadapi kenyataan hidup masyarakat yang sesungguhnya.


Tidak sedikit pula pemimpin yang memiliki riwayat pendidikan mengagumkan. Gelarnya panjang. Kemampuan presentasinya memukau. Logikanya sulit dibantah. Tetapi ketika berhadapan dengan rakyat yang dipimpinnya, ia tampak jauh. Seolah lebih mengenal angka daripada manusia, lebih akrab dengan laporan daripada kenyataan.


Barangkali sejak lama kita terlalu sibuk mengukur kecerdasan akademik, sementara kecerdasan sosial dibiarkan tumbuh sendiri kalau sempat.


Padahal empati tidak pernah muncul di buku rapor.


Kemampuan mendengar tidak pernah tercantum dalam ranking kelas.


Kejujuran tidak selalu mendapatkan nilai tertinggi.


Kerendahan hati tidak pernah diujikan saat kelulusan.


Dan kepedulian kepada sesama tidak pernah menjadi syarat utama masuk perguruan tinggi.


Padahal ketika seseorang kelak menjadi pemimpin, yang paling dibutuhkan sering kali bukan kemampuannya menjawab soal, melainkan kemampuannya memahami manusia.


Karena itu, ketika mendengar kabar tentang ranking Aqil pagi tadi, yang paling membuat saya tenang bukanlah angka 17 itu. Bukan pula peluang masuk sekolah favorit.


Yang lebih membahagiakan adalah harapan bahwa proses yang sedang ia jalani akan membentuknya menjadi manusia yang bertanggung jawab atas pilihannya, mampu menghargai orang lain, tidak mudah merendahkan sesama, dan tetap memiliki empati ketika suatu hari memperoleh keberhasilan.


Sebab nilai rapor suatu hari akan tersimpan di dalam lemari.


Nama sekolah perlahan akan menjadi kenangan.


Bahkan gelar akademik pada akhirnya hanya akan menjadi beberapa huruf di belakang nama.


Tetapi kemampuan memahami manusia, menerima konsekuensi dari pilihan, menjaga empati, dan tetap rendah hati ketika berhasil, itulah bekal yang akan menemani seseorang sepanjang hidupnya.


Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk perburuan sekolah favorit, PTN favorit, ranking favorit, dan berbagai ukuran keberhasilan yang terus kita banggakan, ada satu hal yang justru paling menentukan masa depan seseorang.


Sesuatu yang tidak tercatat dalam nilai ujian, tidak diumumkan saat pembagian rapor, tidak dipajang di spanduk kelulusan, dan tidak pernah menjadi syarat dalam seleksi masuk sekolah mana pun.


Sayangnya, sampai hari ini, hal itulah yang justru belum tercantum di buku rapor.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post