Suatu ketika saya membayangkan,
andai seorang warga desa dari tiga puluh tahun lalu tiba-tiba datang ke hari
ini. Mungkin ia akan terkejut melihat begitu banyak orang yang peduli pada
desa.
Ada pendamping desa, pendamping
lokal desa, pendamping teknis, pendamping manajemen, tenaga ahli, kader,
fasilitator, satgas, business assistant, project management officer, ahli gizi,
dan berbagai profesi lainnya. Hampir setiap program memiliki orang-orang yang
bertugas mengawal, membimbing, memfasilitasi, mengarahkan, dan memastikan kegiatan
berjalan sebagaimana mestinya.
Sekilas, ini tentu kabar baik. Desa
tidak lagi berjalan sendirian. Negara hadir melalui banyak tangan dan banyak
wajah.
Barangkali memang tidak ada periode
dalam sejarah pembangunan Indonesia ketika desa mendapat perhatian sebesar
sekarang. Dari pusat hingga desa, urusan pemberdayaan bahkan memiliki rumahnya
sendiri. Ada kementerian yang mencantumkan kata pemberdayaan dalam namanya. Ada
direktorat yang mengurus pemberdayaan masyarakat. Ada dinas pemberdayaan
masyarakat di daerah. Di desa dan kelurahan bahkan dibentuk Lembaga
Pemberdayaan Masyarakat.
Semua itu menunjukkan satu hal:
pemberdayaan dianggap penting.
Sangat penting.
Sebab bangsa yang kuat tidak
dibangun oleh masyarakat yang terus bergantung, melainkan oleh masyarakat yang
memiliki daya untuk menentukan masa depannya sendiri.
Pemberdayaan pada hakikatnya adalah
proses memampukan masyarakat agar mampu mengenali persoalannya, menemukan
jalannya, mengelola sumber dayanya, dan mengambil keputusan atas kehidupannya sendiri.
Ukurannya bukan sekadar banyaknya kegiatan, melainkan bertambahnya kemampuan
masyarakat untuk berdiri di atas kaki mereka sendiri.
Karena itu, ciri utama pemberdayaan
adalah tumbuhnya partisipasi, kepemimpinan lokal, kemandirian, keberanian
mengambil keputusan, serta kemampuan masyarakat mengelola perubahan tanpa
selalu menunggu arahan dari luar.
Sedangkan pendampingan memiliki
makna yang berbeda.
Pendampingan adalah proses menemani
masyarakat dalam menjalankan program. Pendamping hadir untuk memfasilitasi,
membantu, membimbing, menghubungkan, dan memecahkan berbagai kendala yang
muncul selama program berlangsung.
Pendampingan adalah alat.
Pemberdayaan adalah tujuan.
Masalahnya, dalam perjalanan waktu,
alat terkadang terlihat lebih menonjol daripada tujuan yang hendak dicapai.
Pada masa pemerintahan Susilo
Bambang Yudhoyono, masyarakat mengenal Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat
atau PNPM. Nama programnya secara tegas menggunakan kata pemberdayaan. Program
ini dikawal oleh fasilitator yang bertugas memastikan masyarakat terlibat sejak
perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan pembangunan.
Kemudian lahir Program Pembangunan
dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) pada era pemerintahan Joko Widodo. Kata
pemberdayaan tetap dipertahankan. Namun di lapangan, yang hadir mengawal
program adalah berbagai unsur pendamping, mulai dari Pendamping Lokal Desa,
Pendamping Desa, Pendamping Teknis, Pendamping Manajemen hingga Tenaga Ahli.
Hari ini fenomena yang sama dapat
ditemukan pada berbagai program lainnya. Pada Koperasi Desa/Kelurahan Merah
Putih ada Business Assistant dan Project Management Officer. Pada Satuan
Pelayanan Pemenuhan Gizi terdapat Kepala SPPG, Kader Pendamping Keluarga, Tim
Satgas Pendamping, P3H, Ahli Gizi, dan berbagai unsur pendukung lainnya.
Semua memiliki fungsi yang penting. Semua bekerja untuk tujuan yang baik.
Namun di tengah ramainya barisan
pendamping itu, sesekali muncul pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana.
Apakah masyarakat sedang
diberdayakan, atau sedang didampingi?
Pertanyaan ini penting karena
keduanya tidak selalu sama.
Masyarakat yang diberdayakan akan
semakin mampu mengambil keputusan sendiri. Masyarakat yang diberdayakan akan
semakin percaya diri mengelola persoalannya. Masyarakat yang diberdayakan akan
tetap bergerak meski program telah selesai.
Sebaliknya, masyarakat yang hanya
didampingi mungkin akan berjalan baik selama pendampingnya ada. Tetapi ketika
pendamping pergi, langkahnya bisa ikut melambat.
Tentu kita tidak bisa menutup mata
terhadap berbagai keberhasilan yang telah dicapai. Jalan desa semakin baik.
Jembatan bertambah. Sarana air bersih menjangkau lebih banyak warga. Dana desa
menggerakkan pembangunan hingga pelosok. Kapasitas administrasi desa meningkat.
Pelayanan publik semakin tertata.
Namun pemberdayaan tidak berhenti
pada pembangunan fisik dan administrasi.
Pemberdayaan baru benar-benar hidup
ketika masyarakat mampu bermusyawarah tanpa menunggu instruksi. Ketika kelompok
masyarakat tetap aktif meski proyek telah selesai. Ketika warga mampu mencari
jalan keluar atas persoalannya tanpa harus selalu menunggu program baru datang.
Di titik inilah saya sering
bertanya-tanya.
Setelah begitu banyak pendamping
diterjunkan. Setelah begitu banyak tenaga ahli ditugaskan. Setelah begitu
banyak pelatihan diselenggarakan. Setelah begitu banyak grup WhatsApp dibuat.
Apakah yang tumbuh paling subur
adalah daya masyarakat?
Ataukah justru ekosistem
pendampingannya?
Pertanyaan itu semakin menarik
ketika sebagian proses pendampingan perlahan bergeser ke ruang virtual.
Kunjungan lapangan diganti tautan. Diskusi warga diganti presentasi daring.
Kehadiran diganti daftar hadir digital.
Padahal kepercayaan tidak lahir dari
sinyal internet. Kesadaran tidak tumbuh dari tombol mute dan unmute.
Dan kemandirian tidak pernah lahir dari layar monitor.
Ia lahir dari perjumpaan.
Ia tumbuh dari percakapan.
Ia menguat melalui pengalaman
bersama.
Karena itu, mungkin yang perlu kita
renungkan bukanlah berapa banyak pendamping yang berhasil direkrut atau berapa
banyak rapat yang berhasil dilaksanakan.
Yang perlu kita renungkan adalah
apakah masyarakat semakin berdaya.
Sebab keberhasilan pemberdayaan
bukan diukur ketika masyarakat selalu ditemani.
Keberhasilannya justru terlihat
ketika masyarakat tetap mampu berjalan saat tidak ada lagi yang mendampingi.
Dan ketika desa hari ini dikerumuni
begitu banyak pendamping, mungkin pertanyaan yang layak kita simpan bersama
bukanlah apakah pendamping itu diperlukan.
Melainkan, apakah kerumunan
pendamping itu telah melahirkan masyarakat yang semakin mandiri?
Atau jangan-jangan, tanpa kita
sadari, pendampingan telah menjadi tujuan, sementara pemberdayaan perlahan
tertinggal di belakangnya.
Post a Comment