Balada Fasilitator

 



Di negeri ini ada pekerjaan yang cukup banyak jumlahnya, tetapi namanya tidak pernah benar-benar mendapat tempat yang layak. Bahkan ketika seseorang membuat KTP, ia tidak menemukan pilihan profesi yang selama bertahun-tahun digelutinya. Padahal ia bekerja, berkeringat, berpikir, dan mengabdi. Ia disebut fasilitator pemberdayaan masyarakat. Sebuah profesi yang hidup di antara harapan masyarakat, target pemerintah, dan berbagai kenyataan lapangan yang sering kali jauh dari kata sederhana.

 

Banyak orang mengenal dokter karena menyembuhkan. Mengenal guru karena mengajar. Mengenal polisi karena menjaga keamanan. Tetapi tidak banyak yang mengenal fasilitator. Padahal di banyak desa, di banyak kampung, di banyak ruang musyawarah yang sederhana, mereka hadir sejak awal hingga akhir proses. Mereka membantu masyarakat menyusun mimpi, merancang langkah, menyelesaikan persoalan, dan menjaga agar harapan tidak berhenti menjadi sekadar wacana. Mereka bukan pemilik program. Bukan pengambil keputusan. Bukan pula pemegang anggaran. Tetapi ketika semua orang pulang, sering kali merekalah yang masih duduk merapikan catatan dan memastikan semuanya tetap berjalan.

 

Nama fasilitator mulai akrab di telinga masyarakat ketika program-program pemberdayaan tumbuh begitu masif pada era Presiden SBY. Saat itu masyarakat belajar bahwa pembangunan bukan hanya soal membangun gedung atau jalan, tetapi juga membangun manusia dan kesadaran. Di balik proses yang panjang itu ada para fasilitator yang berjalan dari desa ke desa, dari kelompok ke kelompok, dari musyawarah ke musyawarah. Mereka hadir bukan membawa keajaiban, melainkan membantu masyarakat menemukan kekuatan yang selama ini sudah ada dalam diri mereka sendiri.

 

Namun menjadi fasilitator sering kali berarti bersahabat dengan pengorbanan yang tidak banyak diketahui orang. Sebagian besar bertugas jauh dari keluarga. Ada yang berbulan-bulan hidup di kamar kos yang sempit. Ada yang hanya bisa mendengar suara anaknya melalui telepon. Ada yang menyaksikan tumbuh kembang buah hatinya lebih sering dari foto dan video ketimbang dari pelukan langsung. Ketika banyak orang menikmati akhir pekan bersama keluarga, mereka justru berada di lokasi kegiatan. Ketika hari libur tiba, mereka masih mengejar tahapan yang belum selesai. Sebab masyarakat menunggu. Program menunggu. Target menunggu. Dan sering kali, kerinduan kepada keluarga harus kembali mengalah pada tanggung jawab yang dianggap lebih mendesak.

 

Tidak sedikit anak yang bertanya, “Ayah kapan pulang?” atau “Ibu besok di rumah, kan?” Pertanyaan sederhana yang kadang lebih sulit dijawab daripada menyelesaikan laporan setebal apa pun. Karena ada pekerjaan yang bisa diukur dengan angka, tetapi ada rindu yang tidak pernah bisa dihitung dengan indikator kinerja.

 

Dari luar mungkin pekerjaan ini terlihat biasa saja. Tetapi di dalamnya ada hari-hari yang panjang. Ada perjalanan yang melelahkan. Ada rapat yang selesai ketika malam sudah larut. Ada telepon yang tetap harus dijawab meskipun waktu menunjukkan di luar jam kerja. Menjadi fasilitator sering kali berarti bekerja lebih dari yang tertulis dalam kontrak, tetapi dihargai sebatas yang tertulis dalam administrasi.

 

Mereka membayar BPJS sendiri. Mengurus kewajiban perpajakan sendiri. Ketika ada kebutuhan administrasi yang mendesak, tidak jarang biaya pribadi ikut keluar untuk membeli kertas, tinta, atau keperluan pendukung lainnya. Bukan karena tidak memahami aturan, tetapi karena pekerjaan harus tetap berjalan dan masyarakat tidak bisa diminta menunggu hanya karena urusan administratif belum selesai.

 

Dan di tengah semua itu, fasilitator sering berada pada posisi yang tidak mudah. Dari atas mereka ditekan oleh target yang harus dicapai. Dari samping mereka diributkan oleh berbagai kepentingan dan perbedaan pandangan yang harus dijembatani. Dari bawah mereka disundul oleh harapan masyarakat yang ingin program segera selesai dan manfaatnya segera dirasakan. Mereka berdiri di tengah-tengah, menjadi penengah sekaligus penyambung, menjadi tempat bertanya sekaligus tempat mengadu. Kadang kala mereka seperti jembatan yang setiap hari diinjak dari dua arah, tetapi tidak pernah boleh runtuh.

 

Ironisnya, mereka bukan pemegang keputusan tertinggi. Mereka bukan pengguna anggaran. Mereka bukan penanggung jawab formal dari sebuah kebijakan. Dalam setiap kegiatan selalu ada pejabat yang secara struktural memegang tanggung jawab. Tetapi ketika masalah datang, tidak jarang fasilitator justru menjadi orang pertama yang dicari. Ketika ada pertanyaan, mereka menjawab. Ketika ada keluhan, mereka mendengar. Ketika ada pemeriksaan, mereka diminta menjelaskan. Seolah-olah kedekatan dengan masyarakat membuat mereka harus ikut memikul seluruh beban yang sebenarnya tidak sepenuhnya berada di pundaknya.

 

Namun mungkin bagian yang paling sunyi dari profesi ini adalah ketidakpastian yang mengintai di ujung perjalanan. Karena terlalu sibuk memikirkan keberhasilan program, banyak fasilitator bahkan tidak sempat memikirkan dirinya sendiri. Alih-alih mencari pekerjaan lain, memikirkan kemungkinan pindah kerja saja sering kali tidak sempat. Hari-hari mereka habis untuk masyarakat. Energi mereka habis untuk target kegiatan. Waktu mereka habis untuk memastikan proses berjalan sebagaimana mestinya.

 

Maka ketika program berakhir, tidak sedikit fasilitator yang mendadak kehilangan pekerjaan. Kemarin masih berangkat pagi dan pulang malam. Kemarin masih dikejar laporan dan target. Kemarin masih menjadi orang yang dicari banyak pihak. Lalu hari ini semuanya berhenti. Telepon menjadi sepi. Surat tugas tidak lagi datang. Dan orang yang selama ini membantu banyak orang merencanakan masa depan, tiba-tiba harus kembali memikirkan masa depannya sendiri.

 

Barangkali di situlah letak kesunyian seorang fasilitator. Ia hadir dalam banyak cerita keberhasilan, tetapi namanya sering tertinggal di catatan kaki. Ia membantu banyak orang menemukan jalan, tetapi kadang harus mencari jalannya sendiri ketika tugas itu selesai. Ia mengajarkan masyarakat tentang kemandirian, tetapi sering kali menghadapi ketidakpastian dengan kekuatannya sendiri.

 

Namun demikian, mereka tetap bertahan. Bukan karena jalan ini mudah. Bukan karena imbalannya selalu sebanding. Melainkan karena ada keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesediaan seseorang untuk mendampingi orang lain bertumbuh. Dan selama masih ada masyarakat yang membutuhkan pendampingan, selama masih ada harapan yang perlu dijaga, selama masih ada mimpi yang perlu dibantu untuk diwujudkan, selalu akan ada fasilitator yang berjalan diam-diam di belakang layar.

 

Mungkin mereka tidak tercatat sebagai profesi yang bergengsi. Mungkin nama mereka jarang disebut dalam pidato-pidato. Mungkin pula tidak banyak orang yang benar-benar memahami apa yang mereka kerjakan. Tetapi desa-desa yang tumbuh, kelompok-kelompok yang berdaya, masyarakat yang semakin percaya pada kemampuannya sendiri, adalah saksi bahwa mereka pernah ada.

 

Dan bukankah kadang-kadang pengabdian yang paling tulus memang bukan yang paling banyak dipuji, melainkan yang tetap dilakukan meski nyaris tak pernah mendapat tepuk tangan.

Post a Comment

أحدث أقدم