Mencari Malu di Tumpukan Dokumen

 

 

Belakangan ini publik kembali disuguhi kabar yang membuat banyak orang berhenti sejenak dari kesibukannya. Nama-nama disebut. Dugaan-dugaan bermunculan. Berbagai informasi beredar dari satu ruang ke ruang lainnya. Dan seperti biasa, masyarakat kembali menjadi penonton dari sebuah panggung yang tidak sepenuhnya mereka pahami, tetapi dampaknya sering kali mereka rasakan. Sebab rakyat memang tidak selalu mengerti bahasa audit, tidak selalu memahami istilah dalam laporan pemeriksaan, dan tidak selalu mampu membaca angka-angka yang memenuhi halaman demi halaman dokumen resmi. Namun rakyat memiliki sesuatu yang sering kali lebih tajam daripada itu semua, yakni akal sehat dan naluri untuk merasakan ketika ada sesuatu yang tidak sepenuhnya selaras antara yang ditampilkan dan yang dirasakan.

 

Selama bertahun-tahun, opini WTP telah menjadi simbol keberhasilan. Ia disambut dengan bangga, diumumkan dengan gembira, dan dipajang sebagai bukti bahwa segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang salah dengan penghargaan. Tidak ada yang keliru dengan pencapaian. Sebab setiap kerja baik memang layak diapresiasi. Namun persoalan sering kali muncul ketika penghargaan perlahan berubah menjadi tujuan, bukan lagi akibat dari proses yang baik. Ketika orang mulai mengejar predikat lebih sungguh-sungguh daripada mengejar perbaikan. Ketika tepuk tangan menjadi lebih penting daripada evaluasi. Dan ketika pengakuan menjadi lebih menarik daripada introspeksi.

 

Mungkin inilah salah satu warisan cara berpikir yang tanpa sadar kita pelihara terlalu lama. Kita dibiasakan mencintai hasil, tetapi kurang sabar menghargai proses. Kita lebih mudah terpukau pada angka akhir daripada perjalanan yang melahirkannya. Kita lebih sering bertanya berapa penghargaan yang diraih daripada bagaimana penghargaan itu diperoleh. Yang penting sukses. Yang penting mendapat pengakuan. Yang penting terlihat berhasil. Sementara proses perlahan dipinggirkan menjadi sekadar formalitas yang dianggap tidak terlalu penting untuk diperiksa lebih dalam. Padahal justru di dalam proses itulah karakter diuji, integritas dibentuk, dan kejujuran menemukan maknanya.

 

Barangkali karena itulah kita hidup di zaman yang aneh. Zaman ketika laporan bisa lebih terkenal daripada manfaatnya. Ketika penghargaan kadang lebih sering dibicarakan daripada dampaknya. Ketika masyarakat hafal jumlah prestasi yang diraih, tetapi masih kesulitan merasakan perubahan yang sebanding dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak sedang kekurangan keberhasilan untuk diumumkan. Kita juga tidak kekurangan pencapaian untuk dirayakan. Tetapi kadang-kadang kita kekurangan keberanian untuk bertanya apakah semua yang tampak baik benar-benar sudah berjalan sebagaimana mestinya.

 

Mungkin ini juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan kepemimpinan dan pemberdayaan masyarakat yang berjalan tidak seimbang. Ketika keteladanan di level atas mulai berkurang, maka pesan moral yang seharusnya mengalir ke bawah ikut melemah. Sementara di level bawah, masyarakat lebih sering diajak menjadi penonton daripada pengawas, lebih sering diminta percaya daripada diberi ruang untuk memahami. Akibatnya terbentuk jarak yang cukup lebar antara pengelola amanah dan pemilik amanah itu sendiri. Padahal pemerintahan yang sehat bukan hanya membutuhkan sistem yang baik, tetapi juga keteladanan dari atas dan partisipasi dari bawah. Sebab ketika keduanya melemah secara bersamaan, ruang kosong di antaranya sering kali menjadi tempat berbagai persoalan tumbuh tanpa disadari.

 

Ironisnya, kita sering mengira bahwa semua persoalan dapat diselesaikan dengan menambah aturan. Ketika ada masalah, buat aturan baru. Ketika muncul kelemahan, tambahkan prosedur baru. Ketika ada celah, buat pengawasan baru. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa tidak semua persoalan lahir karena kurangnya aturan. Ada persoalan yang muncul justru karena manusia kehilangan sesuatu yang jauh lebih sederhana. Sesuatu yang tidak tercantum dalam pasal mana pun. Sesuatu yang tidak dapat diukur dengan angka. Sesuatu yang tidak dapat diaudit oleh siapa pun. Yaitu rasa malu.

 

Dahulu rasa malu adalah pagar pertama sebelum hukum bekerja. Ia menjaga seseorang ketika tidak ada yang melihat. Ia mengingatkan ketika kesempatan untuk menyimpang terbuka. Ia menahan ketika godaan datang. Tetapi hari ini, kadang-kadang kita merasa lebih takut kehilangan citra daripada kehilangan integritas. Lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan kepercayaan. Lebih takut kehilangan penghargaan daripada kehilangan nurani. Padahal citra bisa dibangun kembali. Jabatan selalu ada batas waktunya. Penghargaan suatu hari akan berdebu di sudut ruangan. Tetapi kepercayaan yang hilang sering kali membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk dipulihkan.

 

Karena itu, ketika berbagai kabar dan dugaan bermunculan, mungkin yang perlu kita lakukan bukan hanya mencari siapa yang salah. Yang tidak kalah penting adalah bertanya mengapa hal-hal seperti ini terus berulang dalam berbagai bentuk dan waktu yang berbeda. Sebab persoalan yang berulang biasanya tidak hanya berkaitan dengan individu. Ia sering kali berkaitan dengan cara berpikir, budaya, dan kebiasaan yang sudah terlalu lama dianggap biasa.

 

Dan mungkin, di situlah letak kegelisahan yang sesungguhnya. Jangan-jangan yang sedang kita hadapi bukan sekadar persoalan dokumen, laporan, atau penghargaan. Jangan-jangan yang sedang kita cari selama ini adalah sesuatu yang pernah begitu dekat, tetapi perlahan menjauh tanpa kita sadari. Sesuatu yang dahulu menjadi penjaga sebelum pengawasan datang dan menjadi pengingat sebelum hukum berbicara. Sesuatu yang tidak memerlukan stempel, tanda tangan, atau sertifikat untuk bekerja. Sesuatu yang bernama malu.

 

Sebab ketika rasa malu masih hidup, seseorang akan tetap berhati-hati meski tidak diawasi. Tetapi ketika rasa malu mulai hilang, setumpuk dokumen yang paling rapi sekalipun belum tentu mampu menjaga amanah yang ada di dalamnya. Dan jangan-jangan, di antara tumpukan dokumen yang semakin tinggi itu, yang paling lama hilang bukanlah lembar laporannya, melainkan rasa malu yang seharusnya menjaganya.

Post a Comment

أحدث أقدم